Bagaimana Kata-Kata Membentuk Anak-Anak Anda

Parenting / 29 October 2026

Bagaimana Kata-Kata Membentuk Anak-Anak Anda
Sumber: ChatGPT
Aprita L Ekanaru Official Writer
66

“Aduh, kamu selalu bikin repot!”

Kalimat seperti ini mungkin keluar ketika orang tua sedang lelah, sementara anak kembali menumpahkan minuman atau belum menyelesaikan tugasnya. Bagi orang tua, ucapan itu mungkin berlalu begitu saja. Namun, anak bisa mengingatnya sebagai pesan tentang siapa dirinya.

Di tengah kesibukan mengasuh, kita sering memperhatikan apa yang harus anak lakukan, tetapi lupa mendengarkan bagaimana kita berbicara kepada mereka. Apakah perkataan kita membantu anak mengenali dirinya sebagai pribadi yang berharga? Apakah mereka mengetahui hal-hal baik yang kita lihat dalam diri mereka?

 

BACA JUGA: Viral Anak Dipukul di Lift, Bagaimana Menghadapi Anak Tanpa Kekerasan?

 

Dalam percakapan di Focus on the Family, Matt dan Lisa Jacobson, orang tua delapan anak sekaligus penulis buku 100 Ways to Love Your Daughter dan 100 Ways to Love Your Son, membahas pentingnya pesan yang orang tua sampaikan kepada anak setiap hari.

 

1. Anak Perlu Mendengar Apa yang Anda Sukai dari Dirinya

Orang tua bisa sangat mengasihi anak, tetapi apakah anak juga merasa bahwa kehadiran dan kepribadiannya menyenangkan bagi orang tuanya?

Lisa menceritakan pengalamannya melihat seorang putranya yang sedang kurang senang dengan dirinya sendiri. Anak itu memiliki kepribadian kuat yang terkadang membuat orang lain kesal. Saat melihatnya mengerjakan tugas sederhana, Lisa menyampaikan bahwa ia memperhatikan dan menyukai kesetiaannya dalam hal-hal kecil.

Ia melihat perubahan pada sikap tubuh putranya setelah mendengar perkataan itu.

Dari pengalaman tersebut, Lisa belajar untuk sengaja menyebutkan kualitas baik yang ia lihat dalam anak-anaknya. Kita pun dapat melakukannya melalui kalimat sederhana:

“Ibu lihat kamu tetap menyelesaikan tugasmu meskipun tadi kesulitan. Ibu menghargai ketekunanmu.”

Peneguhan yang spesifik membantu anak memahami hal baik apa yang sedang bertumbuh dalam dirinya.

 

2. Tegur Perilakunya dengan Tetap Menghargai Dirinya

Anak tetap membutuhkan arahan dan koreksi. Namun, perhatikan perbedaan antara mengatakan, “Kamu memang pemalas,” dan “Tugasmu belum selesai. Apa yang membuatmu kesulitan mengerjakannya?”

Kalimat pertama memberi label pada diri anak. Kalimat kedua membahas persoalan yang perlu diselesaikan dan membuka kesempatan untuk mendengarkan.

Kita bisa bersikap tegas tanpa merendahkan. Saat anak berbohong, misalnya, jelaskan bahwa kebohongan merusak kepercayaan, lalu ajak ia bertanggung jawab dan memperbaikinya. Berikan ruang baginya untuk belajar mengambil keputusan yang lebih baik.

 

3. Ulangi Pesan yang Membantu Anak Mengenali Nilainya

Matt mengingatkan bahwa dunia terus menyampaikan pesan kepada anak-anak. Iklan dan media sosial menawarkan gambaran tentang penampilan, keberhasilan, serta kehidupan yang dianggap layak dikagumi.

Ia membandingkannya dengan iklan yang ditayangkan berulang kali agar pesannya diingat. Orang tua juga memiliki kesempatan untuk terus menyampaikan pesan yang membangun melalui percakapan sehari-hari.

Sebutkan kebaikan hati, kejujuran, keberanian meminta maaf, atau kesediaan anak membantu. Dengan begitu, perhatian anak tidak hanya tertuju pada nilai sekolah, prestasi, dan penampilan.

Bantu mereka mengenali karakter serta karunia yang Tuhan berikan, sekaligus memahami bagaimana menggunakannya untuk kebaikan.

 

4. Sampaikan Kepercayaan dan Beri Kesempatan untuk Mencoba

Ketika anak berkata, “Aku tidak bisa,” kita mungkin tergoda langsung mengambil alih agar pekerjaan cepat selesai.

Dalam transkrip tersebut, Matt menyoroti bahwa orang tua yang terbiasa mengerjakan segalanya dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk berpikir dan menemukan solusi.

Cobalah mengatakan, “Ayah percaya kamu bisa mempelajarinya. Menurutmu, langkah pertama apa yang bisa dicoba?”

Sesuaikan tantangan dengan usia dan kemampuan anak, lalu dampingi prosesnya. Perkataan yang memberi semangat akan lebih bermakna ketika anak juga mendapat kesempatan untuk berusaha.

 

5. Pastikan Sikap Anda Mendukung Perkataan Anda

Kalimat “Kamu boleh cerita kepada Ibu” perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan. Begitu pula ucapan “Ayah mendukungmu” perlu terlihat melalui perhatian terhadap minat dan kegiatan anak.

Matt dan Lisa juga mengingatkan bahwa rasa hormat disampaikan lewat nada suara dan ekspresi wajah. Anak memperhatikan bagaimana kita merespons, termasuk saat pendapatnya berbeda dengan kita.

 

BACA JUGA: Sudahkah Kita Mendidik Anak dengan Benar? Ini 5 Prinsip Parenting Menurut Alkitab

 

Efesus 4:29 mengingatkan kita untuk menggunakan perkataan yang baik untuk membangun, sesuai dengan kebutuhan orang yang mendengarnya. Prinsip ini dapat kita praktikkan di rumah, termasuk ketika mengoreksi anak.

Jika pernah mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, datanglah dan minta maaf secara spesifik. Katakan bahwa ucapan tersebut tidak tepat, lalu sampaikan kembali maksud Anda dengan lebih baik.

Hari ini, cobalah memperhatikan satu kualitas baik dalam diri anak dan sampaikan kepadanya. Mungkin selama ini Anda sudah melihatnya, tetapi ia belum pernah mendengarnya langsung dari Anda.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?